01 · 6 menit
Asal Muasal Suku Kanum
Penutur
Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum, Kampung Sota
- asal usul
- Suku Kanum
- Karumpumer
- nibun
- Kampung Sota
Sebuah rumah yang berbentuk pohon
Di seberang perbatasan, di tanah yang kini termasuk wilayah Papua Nugini, ada sebuah tempat bernama Karumpumer. Menurut tuturan orang Kanum, di sanalah pusat keturunan manusia bermula.
Di tempat itu tumbuh sebatang pohon nibun yang besar sekali. Pohon itu bukan sekadar pohon. Pohon itu adalah rumah. Di dalamnya ada pintu, ada tangga, dan ada tingkatan, dan di setiap tingkatan tinggal pasangan-pasangan manusia. Akar nibun itu, kata penutur, sampai sekarang masih ada, dan rawa di sekelilingnya menjadi kolam besar.
Dua orang tua dan dua ekor anjing
Di luar pohon itu hidup dua orang tua, seorang nenek dan seorang teteh. Mereka hidup berdua saja dan tidak memiliki anak. Milik mereka hanyalah dua ekor anjing, yang bernama Entakawetip dan Karumpu.
Setiap hari kedua orang tua itu berkebun dan berburu, dan kedua anjing itu yang menggigit binatang buruan. Sepulang berburu mereka membakar batu, mengambil ubi, dan makan. Begitulah hari-hari mereka. Dan mereka tidak tahu bahwa di dekat mereka, di dalam batang nibun itu, ada manusia lain yang hidup.
Tiga hari yang dihitung
Pada suatu masa kedua anjing itu mulai pergi berburu sendiri. Yang ganjil, anjing itu pulang dalam keadaan kenyang, padahal tidak ada binatang yang dibawa pulang. Pukul empat pagi kumbili sudah disiapkan untuk bekal, tetapi anjing sudah tidak ada di tempatnya, dan ketika kembali perutnya sudah penuh.
Tiga hari lamanya hal itu berlangsung, dan tiga hari itu dihitung. Akhirnya nenek berkata bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan. Kumbili disiapkan dan ditinggalkan di rumah. Hari itu mereka tidak berburu. Hari itu mereka mencari tahu apa yang dimakan anjing mereka.
Kalung daun, lalu kalung siput
Cara pertama adalah kalung daun. Di daerah lapang tumbuh sejenis tanaman berbunga kuning yang oleh orang Kanum disebut entarempe. Daunnya dikeringkan berkali-kali sampai benar-benar kering, lalu dirangkai menjadi kalung, agar jejak anjing itu bisa tertinggal dan terdengar.
Mereka mengikuti terus, tetapi suaranya hilang. Daun kering itu putus satu per satu di antara kayu-kayu yang banyak, dan jejaknya habis.
Cara kedua memakai siput kali. Dagingnya dikeluarkan, cangkangnya dibor, lalu dirangkai menjadi kalung. Ketika anjing bangun pukul lima dan hilang, teteh mulai mengikuti. Orang tua zaman dahulu, kata penutur, larinya masih laju.
Ia mengikuti sampai jauh, sampai akhirnya berhenti di depan sebatang pohon nibun yang besarnya luar biasa. Dari dalam pohon itu ia mendengar suara orang. Dan ia mencium bau kotoran manusia, dan mengerti bahwa itulah yang dimakan anjingnya selama tiga hari.
Pohon itu dibuka
Esok paginya mereka berdua berangkat bersama, membawa makanan yang sudah dibakar batu. Sampai di sana teteh berteriak memanggil, "Bamet," yang berarti saudara. Dari dalam pohon terdengar jawaban, tetapi timbul dan hilang. Maka ia mengambil songkapu, sebilah kayu runcing sepanjang kira-kira dua meter, dan menikam batang nibun itu untuk membukanya.
Dari tikaman itulah, menurut tuturan, lahir sebuah tanda yang menurun sampai sekarang. Pada wajah orang Kanum dan orang Kima'am ada bekas luka yang diwariskan, dan karena itu wajah keduanya bisa dibedakan.
Setelah pohon terbuka, teteh bertanya, "Bamet, kau siapa?" Ia bertanya dalam bahasa Kanum, dan dari dalam ia dijawab dalam bahasa Kanum juga. "Oh, kau saya punya saudara," katanya.
Pasangan-pasangan itu turun satu per satu. Di tingkat paling bawah adalah orang Kanum. Di tangga kedua adalah orang Malind. Kemudian orang Yei. Dan di ujung sana, di rawa, adalah orang Kima'am.
Pembagian wilayah
Lalu terjadilah pembagian wilayah. Kepada Malind dikatakan bahwa tempat tinggalnya di pinggir pantai. Kepada Yei dikatakan bahwa tempatnya di bagian utara. Kepada Kima'am dikatakan bahwa tempatnya di daerah rawa. Orang Kanum sendiri sebagian tinggal di darat dan sebagian di pesisir, ke arah selatan. Masing-masing dengan makanan adatnya sendiri.
Sejak itulah ada Suku Malind, Suku Kanum, Suku Yei, dan Suku Kima'am.
Bukan dongeng
Penutur menutup ceritanya dengan satu keberatan yang perlu dicatat. Orang mungkin menyebut ini dongeng. Ia menolak sebutan itu.
"Ini bukan cerita dongeng, ini sejarah," katanya.
Dan ia menambahkan bahwa sampai hari ini keempat suku itu tetap mengakui bahwa mereka semua adalah pecahan dari orang Kanum, dan bahwa mereka adalah orang Matahari naik.
Catatan penutur. Cerita ini dituturkan oleh Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum di Kampung Sota, Kabupaten Merauke.