kenali istilah

Glosarium

Istilah yang muncul di dalam seri cerita adat, disusun menurut abjad. Ejaan mengikuti naskah penutur; bentuk penulisan dapat berbeda antarsumber dan tidak diseragamkan.

45 istilah ditemukan

  • Bagian dari sebutan Malind Anim Ha. Menurut Frederikus Mahuze, imbuhan ha menunjukkan manusia sejati, dan sebutan itu hanya dipakai pada Suku Malind.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Cara memasak dengan batu yang dipanaskan, sekaligus penanda bahwa suatu acara adat sedang berlangsung. Disebut oleh narasumber dalam pesta adat, pembukaan sasi, dan acara pegang anak.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sapaan dalam bahasa Kanum yang berarti saudara. Muncul dalam cerita asal usul sebagai panggilan pertama kepada mereka yang berada di dalam batang nibun.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Alat berburu yang masih dipakai untuk pencarian makan sehari-hari di Wasur, dan yang penggunaannya dibatasi oleh aturan totem.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Bagian pakaian adat yang dikenakan, antara lain pada anak dalam acara pegang anak.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tuan tanah, leluhur, atau penjaga wilayah. Dijelaskan oleh Yulius Romeo Mahuze sebagai manusia yang belum menjadi manusia, serupa roh atau dewa, kadang berwujud binatang. Dijelaskan oleh Frederikus Mahuze sebagai manusia pertama yang dapat menjelma, yang diciptakan lebih dahulu daripada manusia sejati. Dijelaskan oleh Dominus Bakap sebagai pertalian dengan tempat asal dan identitas. Dema dapat menjaga dan dapat pula menghukum.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Petak wilayah adat berupa hutan, rawa, atau dusun sagu yang dimiliki dan dikelola oleh marga tertentu.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Petak rawa tempat sagu tumbuh, sebagian berasal dari leluhur dan sebagian ditanam. Menurut Agustinus Ndiken, dusun sagu tidak habis kecuali terbakar, dan setiap marga memilikinya sendiri.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Nama dua ekor anjing milik sepasang leluhur dalam cerita asal usul Suku Kanum.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tanaman berbunga kuning yang daun keringnya dirangkai menjadi kalung dalam upaya pertama mengikuti jejak anjing.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Empat golongan adat dalam tatanan Malind. Mayo terbagi lagi menjadi Mayo Daman dan Mayo Bodol.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tarian khusus milik Kampung Baad, dipakai untuk penerimaan. Tidak dapat dipakai oleh kampung lain. Dalam rekaman terdengar pula sebagai Etor.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tarian yang bersifat umum di Kampung Baad, dipakai pada pembukaan sasi, pelepasan tanah adat, penerimaan tamu penting, dan sebagai ucapan terima kasih. Menurut Agustinus Ndiken, bahasa lagunya tidak dimengerti oleh penyanyinya sendiri.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Satuan wilayah dan kelembagaan adat di atas kampung dan marga.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Ikan laut yang pendek dan berduri tajam, disebut sebagai lambang laut bagi marga Mahuze.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Daun kelapa muda, dipakai sebagai bahan tanda sasi dan sebagai hiasan dalam acara adat.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Nama marga pemilik kampung lama di Kampung Baad, menurut Agustinus Ndiken. Nama ini tidak termasuk dalam daftar tujuh marga besar.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tempat permukiman terdahulu yang kini disakralkan. Tidak boleh digusur dan tidak boleh dijual, dan dapat dipagari.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sebutan untuk pinang pada satu wilayah tutur, dipakai oleh Yulius Romeo Mahuze sebagai contoh perbedaan logat antargolongan.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Bahan pembungkus yang dipakai dalam acara adat Suku Kanum, antara lain untuk membungkus kumbili yang digantung di para-para.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Umbi yang menjadi makanan tradisional Suku Kanum. Musim panennya menentukan waktu pelaksanaan acara pegang anak.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Kelompok keturunan yang menjadi pemilik wilayah adat dan pemegang lambang totem. Tujuh marga besar yang disebut adalah Mahuze, Kaize, Gebze, Ndiken, Samkakai, Balagaize, dan Basik-basik. 

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Nama organisasi perempuan pada lingkup Merauke, disebut oleh Yulius Romeo Mahuze. Lihat pula Buti Iwak.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sebutan yang menurut Marthen Ndiken menunjuk pada orang Kanum, dan yang menurutnya masih diakui oleh keempat suku sebagai asal bersama.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tradisi perang dan pencarian kepala yang menurut Yulius Romeo Mahuze sangat kental dalam sejarah Malind dan berakhir seiring masuknya agama.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Penjaga yang membawa busur dan anak panah serta menjaga tanah tinggi. Menurut Yulius Romeo Mahuze, Misdema adalah milik marga Mahuze.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Nama salah satu tarian Suku Kanum yang disebut Mama Norce Mahuze tanpa penjelasan makna. Dalam rekaman terdengar pula sebagai Mbantri.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sejenis palem. Dalam cerita asal usul Suku Kanum, sebatang nibun raksasa menjadi rumah bertingkat tempat asal empat suku.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tas anyam khas Papua. Dalam acara pegang anak dikenakan dalam ukuran kecil.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Pekerjaan mengolah batang sagu menjadi tepung. Menurut Agustinus Ndiken, pekerjaan ini bersifat sehari-hari, tidak memiliki waktu khusus, dan alatnya seluruhnya berasal dari alam.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Panggung atau anjungan yang dibuat dan dihias dalam acara pegang anak, tempat anak dan orang tuanya duduk.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Acara adat ketika anak dipegang untuk pertama kalinya oleh om dan tantenya, setelah masa tidak boleh menyentuh. Disebut oleh narasumber Suku Kanum untuk anak berumur satu tahun, dan disebut pula oleh Ketua Adat Wasur sebagai bagian dari rangkaian pesta adat Marori Menggey.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Larangan adat. Melanggarnya dapat mendatangkan sakit yang menurut narasumber bukan sakit medis.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Batu dan proses pembakaran dalam acara adat, yang dalam acara pegang anak dibuka pada pukul tiga. Disebut pula sebagai bakar sagu sep pada acara adat di Wasur.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sebutan sehari-hari di Merauke untuk kangguru. Bertotem marga Samkakai.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Ular laut atau ular air yang membuat kali ke mana pun ia pergi. Menurut Yulius Romeo Mahuze, Sarendo adalah milik marga Gebze.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Penutupan sebuah wilayah adat untuk jangka waktu tertentu. Bekerja sebagai tanda duka, sebagai cara memulihkan flora dan fauna, dan sebagai tanda sengketa batas antarmarga. Ditandai dengan ikatan janur kuning atau alang-alang.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sebutan yang menurut Marthen Ndiken dipakai ketika orang datang kepada orang Malind, dan yang menurutnya menunjuk orang Matahari Naik.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Kayu runcing sepanjang kira-kira dua meter yang dipakai untuk membuka batang nibun dalam cerita asal usul Suku Kanum.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tarian Suku Kanum yang menurut Mama Norce Mahuze menceritakan kisah orang tua-tua yang datang dari tempat jauh, bertemu di suatu tempat, lalu membuat acara dan bersyukur beramai-ramai.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Alat musik pukul, ditabuh dalam acara pegang anak setelah sep dibuka.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Salah satu upacara yang termasuk dalam rangkaian pesta adat di Kampung Wasur.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Sebutan dalam bahasa adat untuk Yesus, menurut tuturan Frederikus Mahuze.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Kata dalam bahasa Malind yang berarti berkebun. Menurut Yulius Romeo Mahuze, musim berkebun jatuh pada September dan Oktober sambil menunggu hujan pada November dan Desember.

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).

  • Tanaman yang menjadi lambang tumbuhan bagi marga Ndiken, dan disebut sebagai salah satu tumbuhan yang dihormati. ---

    Sumber: seri Cerita Adat (naskah penutur).