Cerita Adat

Narasumber

Tujuh penutur yang tuturannya menjadi dasar seluruh cerita dalam seri ini.

  • Dominggus Bakap

    Kepala Kampung Wasur, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Sub-suku Marori Menggey

    Pokok tuturan: tatanan tujuh marga, sasi sebagai konservasi dan sebagai peringatan bagi yang meninggal, mekanisme penyelesaian pelanggaran adat, konsep dema dan pemali, aturan tentang siapa berhak bercerita, dan lagu ciptaan sendiri berjudul Ndap Pari.

  • Alexander Kaize

    Ketua Adat Kampung Wasur, Suku Marori Menggey, marga Kaize

    Pokok tuturan: persiapan pesta adat dan ritual pelepasan sasi, sasi sebagai tanda duka dan sebagai penanda sengketa batas, totem dan larangan berburu, tanda batas alam antarmarga, sub-suku di wilayah Wasur, pegang anak dan tusuk telinga di Wasur, lagu berbahasa Marori, dan pesan untuk generasi muda. Menyatakan batas sakral atas asal usul totem kasuari marga Kaize.

  • Yulius Romeo Mahuze

    Ketua adat wilayah Sosom, Kampung Buti, Kabupaten Merauke

    Pokok tuturan: sejarah mengayau dan penyebaran dari Kondo sampai Digul, empat golongan adat, tujuh marga beserta lambang binatang, tumbuhan, dan laut, tatanan kepemimpinan dan hak kunamanem, nama tempat Lima Suba, Bui Pare, Tot Pare, dan Mbanggu, konsep dema, Sarendo, dan Misdema, nyanyian penyebut nama tempat, serta keterangan mengenai organisasi perempuan Marind Iwak dan Buti Iwak.

  • Marthen Ndiken

    Penasihat adat Suku Kanum, Kampung Sota, Kabupaten Merauke. Dalam rekaman beliau memperkenalkan diri sebagai penasihat pada lembaga masyarakat adat

    Pokok tuturan: cerita asal usul empat suku dari batang nibun di Karumpumer, makna nama Ndalir, sejarah perang suku dan berakhirnya, masa satu tahun berkabung sebelum pegang anak, ritual penyebutan nama tanah sebelum bekerja, dan pesan untuk generasi muda.

  • Mama Norce Mahuze

    Penutur tradisi Suku Kanum, marga Mahuze dari marga besar Mbanggu. Dalam rekaman beliau menyebut Kampung Sota sebagai asal wilayahnya

    Pokok tuturan: seluruh rangkaian acara pegang anak, makna bunga anggin, tiga marga besar Suku Kanum, tarian Teyangyu dan Mpantri, aturan mengenai kapan lagu adat boleh dinyanyikan, dan penegasan bahwa Suku Kanum adalah suku tersendiri.

  • Frederikus Mahuze

    Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Malind Anim, Kabupaten Merauke

    Pokok tuturan: makna sebutan Malind Animha dan manusia sejati, cerita asal usul manusia yang lahir dari perut bumi, peran anjing dan burung bangau, daftar totem, pemetaan sub-suku dan kampung dalam wilayah kabupaten, kedudukan dema sebagai leluhur beserta sebutan Alawi dan Waliwu, keterangan bahwa Suku Kanum adalah sub-suku Malind, kesaksian mengenai puasa dan perjumpaan serta putusnya komunikasi, dan pesan untuk generasi muda.

    Cerita yang memuat tuturannya

  • Agustinus Ndiken

    Kepala Kampung Baad, Kabupaten Merauke

    Pokok tuturan: aturan bahwa budaya sebuah kampung tidak dapat disalurkan ke kampung lain, tarian Gatzi dan Ettor beserta penggunaannya, tanah sakral dan kampung lama, dusun sagu dan pangkur sagu, cara pewarisan keterampilan melalui kehadiran anak, dan pesan berupa usul kegiatan latihan menyanyi.