09 · 6 menit
Dusun yang Ditutup karena Duka
Penutur
Alexander Kaize, Ketua Adat Kampung Wasur, Dominggus Bakap, Kepala Kampung Wasur, dan Marthen Ndiken
- sasi
- konservasi
- lembaga adat
- Kampung Wasur
Tingkat pertama, kedukaan
Kalau ada satu praktik yang paling sering disebut di Kampung Wasur, praktik itu adalah sasi. Dan dua penutur menjelaskannya dari titik masuk yang berbeda, sehingga bila digabungkan tampaklah bahwa sasi bekerja pada tiga tingkat sekaligus.
Alexander Kaize menjelaskan tingkat pertama dengan lugas. Ketika ada yang meninggal, entah bapak, mama, adik, atau kakak, maka tempat yang biasa didatangi orang itu selama hidupnya ditutup. Yang pergi menutup adalah keluarga sendiri, biasanya om.
Tempat itu dilarang dimasuki. Dan larangan itu berlaku juga bagi keluarga. "Keluarga juga tidak bisa masuk ke situ," katanya. "Itu sasi. Jadi tidak boleh."
Alasannya terletak pada jejak hidup orang yang meninggal. Selama hidupnya ia selalu berada di dusun itu. Di situ ia mencari makan, mencari ikan, berburu, bahkan tidur di hutan. Maka tempat itulah yang disasi. Kira-kira satu tahun kemudian keluarga yang sama akan datang membukanya kembali.
Dominggus Bakap menjelaskan sisi yang sama dengan penekanan pada mengenang. Keluarga yang masih hidup mengenang yang telah pergi, dan karena mengenang jasanya, tempat yang selalu dikunjungi semasa hidupnya ditutup sementara sampai batas waktu yang ditentukan.
Tingkat kedua, pemulihan alam
Di sinilah Dominggus Bakap memberikan penjelasan yang paling lengkap.
Sebuah dusun dapat ditutup untuk sementara waktu, satu tahun atau dua tahun, dan alasan utamanya adalah konservasi. Kalau setiap tahun orang terus mengambil potensi sumber daya alam yang ada di dalam, maka seiring waktu isinya akan berkurang, baik flora maupun faunanya. Supaya perkembangbiakan flora dan fauna di tempat itu bisa kembali, tempat itu harus ditutup untuk jangka waktu tertentu.
Yang berhak menutup adalah pemiliknya, dan pemilik itu masuk dalam kategori marga. Maka tugas marga itu adalah menyampaikan kepada keluarga marga yang lain bahwa tempat tersebut untuk sementara waktu dilarang dimasuki.
Kalau ada yang melanggar
Pertanyaan itu diajukan sendiri oleh penutur, dan dijawabnya sendiri dengan urutan yang jelas.
Jika ada yang masuk, sengaja atau tidak, dan diketahui ada barang yang diambil atau dirusak, maka marga tersebut harus kembali melapor ke lembaga adat. Sebab prosesnya memang dimulai secara adat, maka penyelesaiannya harus kembali ke adat.
Lembaga adat kemudian memanggil yang bersangkutan. Pihak yang melanggar dipanggil untuk duduk bersama, dan tujuan utamanya, kata penutur dengan tegas, adalah mencari solusi. Barulah sesudah itu lembaga mempertimbangkan sanksi, dan pertimbangan itu didasarkan pada kronologis kejadian di wilayah adat yang dilanggar.
Tingkat ketiga, batas antarmarga
Alexander Kaize menyebutkan penggunaan yang ini hampir sebagai catatan tambahan, padahal maknanya besar.
Sasi juga dipasang ketika sebuah marga melanggar batas tanah marga lain. Ia memberi contoh dengan marganya sendiri. Jika marga Samkakai masuk ke wilayah marga Kaize, maka ia yang pergi dan mengikat tanda di situ. Tidak boleh. Lalu mereka duduk berbicara lebih dahulu. Jika sudah selesai dan pihak itu mengakui bahwa memang tempat itu milik marga Kaize, maka tanda tadi dicabut.
Bentuknya sederhana, pembukaannya besar
Bentuk sasi itu sendiri sederhana. Ia berupa ikatan janur kuning atau alang-alang, dipasang sebagai tanda bahwa masuk ke tempat itu dilarang. Ketika ditanya apakah ada tarian atau upacara sebelum memasang sasi, Alexander Kaize menjawab singkat. Tidak ada. Langsung dipasang saja, dengan acara sedikit saja.
Yang besar justru pembukaannya. Untuk membuka sasi harus dibuat ritual lagi, harus bakar batu lagi, dan saudara-saudara yang lain diundang. Barulah setelah itu orang boleh masuk ke dusun dan bebas mencari makan lagi.
Pesta adat itu sendiri, kata Alexander Kaize, mengandung banyak makna sekaligus. Ada bakar batu. Sorenya ada tari-tarian, disertai cabut kayu sasi. Dan di dalamnya ada pula tusuk telinga dan pegang anak.
Menyebut nama tanah sebelum bekerja
Ada satu ritual lain yang berkaitan dengan membuka tanah, dan yang diceritakan oleh Marthen Ndiken dari Suku Kanum.
Yang pertama dilakukan adalah menyebut nama. Nama-nama tempat disebut satu per satu, dari sana sampai ke sini, berputar sampai ke jalan besar. Menyebut nama tempat adalah bagian yang tidak boleh dilewati.
Kemudian sirih, pinang, kapur, dan rokok diambil dan disebutkan. Seekor babi dipotong. Sebuah lubang dibuat di tanah, dan pinang serta rokok itu dimasukkan ke dalamnya lalu ditutup.
Maknanya dijelaskan dengan sederhana. Itu adalah ucapan terima kasih kepada leluhur dan moyang yang sudah ada, yang berada di bawah tanah. Bersama ucapan terima kasih itu disampaikan pula permohonan, yaitu agar pekerjaan berjalan, agar mereka yang bekerja tidak sampai celaka, dan agar alat-alat yang dipakai turut dijaga.
Catatan penutur. Halaman ini memuat tuturan Alexander Kaize, Ketua Adat Kampung Wasur, Dominggus Bakap, Kepala Kampung Wasur, dan Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum.