14 · 7 menit
Himpunan Nyanyian dan Tarian
Penutur
Alexander Kaize, Dominggus Bakap, Yulius Romeo Mahuze, Mama Norce Mahuze, dan Agustinus Ndiken
- nyanyian
- tarian
- Gatzi
- Teyangyu
- hak cipta
- batas adat
Sebuah daftar, bukan sebuah cerita
Halaman ini disusun sebagai daftar. Tujuannya satu, yaitu memperlihatkan seluruh nyanyian dan tarian yang disebut oleh para penutur, beserta keadaan masing-masing pada saat wawancara.
Perlu dinyatakan lebih dahulu bahwa dari tujuh nyanyian yang disebut, hanya satu yang liriknya dapat dimuat. Alasannya berbeda-beda untuk setiap nyanyian, dan alasan itu dicantumkan pada tiap butir. Perbedaan alasan itu sendiri adalah pengetahuan, karena ia memperlihatkan bahwa sebuah lagu dapat tertutup karena aturan adat, karena hak cipta, karena memang tidak dituturkan, atau karena bahasanya sendiri sudah tidak dikuasai.
Nyanyian
1. Nam Teke Fisir Tamba Nonjo
Penutur: Alexander Kaize, Ketua Adat Kampung Wasur. Bahasa Marori.
Lirik dinyanyikan penuh dalam rekaman dan dimuat dalam seri ini.
Nam teke fisir tamba nonjo. Nam teke fisir tamba nonjo. Sir sir sir sir. Sisir sisir sir sir. Nam teke fisir tamba nonjo.
Arti yang diberikan penutur adalah saya punya api sudah menyala. Menurutnya lagu ini dapat dinyanyikan kapan saja. Ia juga meluruskan bahwa lagu ini berbahasa Marori dan bukan berbahasa Malind.
2. Ndap Pari
Penutur: Dominus Bakap, Kepala Kampung Wasur. Bahasa Marori Menggey.
Lagu dinyanyikan dalam rekaman, tetapi disampaikan melalui penjelasan makna dan bukan melalui pembacaan lirik utuh. Lirik tidak dimuat, karena lagu ini adalah karya cipta penuturnya sendiri, sehingga pemuatannya memerlukan izin tertulis dari beliau sebagai pencipta.
Ndap berarti mama dan pari berarti bapak. Isinya adalah orang tua yang pergi dan meninggalkan dirinya seorang diri, perlawanan terhadap hidup yang berat, dan pengaduan kepada suara burung, savana, hutan bus, serta angin.
3. Nyanyian penyebut nama tempat
Penutur: Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom.
Tidak dinyanyikan dalam rekaman dan tidak memiliki judul. Ketika ditanya judulnya, penutur menjawab bahwa lagunya ada tetapi judulnya tidak ada.
Isinya adalah rangkaian nama tempat yang pernah disinggahi, disusun menurut sejarah perjalanan. Lagu ini dikenal di seluruh empat golongan adat, dan yang berbeda hanya logat serta cara penyebutannya.
4. Nyanyian adat pada malam kematian
Penutur: Yulius Romeo Mahuze. Tidak dinyanyikan dalam rekaman.
Dinyanyikan pada malam setelah seseorang meninggal, ketika jenazah dibaringkan, dari malam sampai pagi. Penutur menekankan dua kali bahwa kebiasaan ini bukan berasal dari agama, melainkan sudah menjadi tradisi orang Malind sebelum agama masuk.
5. Nyanyian adat pada hari keempat puluh
Penutur: Yulius Romeo Mahuze. Tidak dinyanyikan dalam rekaman.
Isinya adalah nama tempat-tempat yang biasa didatangi orang yang meninggal semasa hidupnya, disebut satu per satu sampai kembali kepada kematiannya.
6. Lagu adat Suku Kanum
Penutur: Mama Norce Mahuze. Tidak dinyanyikan dan tidak dimuat.
Alasannya adalah aturan adat. Ketika diminta menyanyikannya pada saat wawancara, beliau menjawab bahwa lagu adat hanya dapat dinyanyikan pada saat ada acara adat. "Itu ada aturannya."
Batas ini dihormati sepenuhnya. Penyusun tidak meminta, tidak merekam, dan tidak mencari lirik lagu ini dari sumber lain.
7. Lagu Gatzi
Penutur: Agustinus Ndiken, Kepala Kampung Baad. Tidak dinyanyikan dalam rekaman dan liriknya tidak dimuat.
Selain karena liriknya tidak dituturkan, penutur menyatakan bahwa bahasa lagu ini tidak dimengerti oleh mereka yang menyanyikannya. "Kita tidak mengerti bahasanya. Hanya ada ini, kita bisa menyanyi." Ia menduga bahasa itu bukan bahasa Malind sehari-hari, melainkan barangkali bahasa Malind yang halus.
Yang masih dapat menyanyikannya hanya orang tua.
Tarian
1. Teyangyu
Suku Kanum, dituturkan Mama Norce Mahuze. Tarian ini menceritakan kisah pada saat orang tua-tua datang dari satu tempat yang jauh, lalu bertemu di suatu tempat, lalu membuat acara di situ dan bersyukur beramai-ramai.
2. Mpantri
Suku Kanum, dituturkan Mama Norce Mahuze. Disebut sebagai salah satu jenis tarian, tanpa penjelasan makna. Dalam rekaman nama ini terdengar pula sebagai Mbantri.
3. Gatzi
Kampung Baad, dituturkan Agustinus Ndiken. Bersifat umum dan dapat dipakai di luar Kampung Baad. Dipakai pada pembukaan sasi, pelepasan tanah adat, penerimaan tamu penting, dan sebagai ucapan terima kasih. Biasanya berlangsung dua malam dan didahului acara bunuh babi.
4. Ettor
Kampung Baad, dituturkan Agustinus Ndiken. Khusus milik orang Baad dan tidak dapat dipakai sembarangan di kampung lain. Dipakai untuk penerimaan, termasuk penerimaan tamu.
5. Tari-tarian dalam pesta adat Kampung Wasur
Dituturkan Alexander Kaize tanpa nama. Dilaksanakan pada sore hari dalam rangkaian pesta adat, disertai pencabutan kayu sasi.
Mengapa hanya satu lirik yang dapat dimuat
Ketujuh nyanyian di atas tertutup karena empat alasan yang berbeda, dan perbedaan itu perlu dilihat sebagai temuan, bukan sebagai kegagalan pengumpulan data.
Yang pertama adalah aturan adat, sebagaimana berlaku bagi lagu adat Suku Kanum. Lagu itu hanya boleh dinyanyikan pada saat acara adat berlangsung, sehingga permintaan menyanyikannya di luar acara adat adalah permintaan yang tidak dapat dipenuhi.
Yang kedua adalah hak cipta, sebagaimana berlaku bagi Ndap Pari. Lagu itu adalah karya cipta seorang penutur yang masih hidup, sehingga pemuatannya adalah persoalan izin dan bukan persoalan akses.
Yang ketiga adalah keadaan wawancara, sebagaimana berlaku bagi nyanyian penyebut nama tempat dan nyanyian dalam upacara kematian. Nyanyian itu memang tidak dinyanyikan pada saat wawancara, dan penyusun tidak melengkapinya dari sumber lain.
Yang keempat adalah putusnya penguasaan bahasa, sebagaimana berlaku bagi lagu Gatzi. Di sini yang hilang bukan aksesnya, melainkan pengertiannya. Lagunya masih dinyanyikan, tetapi bahasanya sudah tidak dimengerti oleh penyanyinya sendiri.
Alasan keempat inilah yang paling mendesak untuk ditindaklanjuti, karena ia bergerak seiring usia penutur.
Catatan penutur. Halaman ini menghimpun keterangan dari lima penutur, yaitu Alexander Kaize, Dominus Bakap, Yulius Romeo Mahuze, Mama Norce Mahuze, dan Agustinus Ndiken.