04 · 4 menit

Kali yang Namanya Darah

Penutur

Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum, Kampung Sota

  • Ndalir
  • perang suku
  • batas wilayah
  • Suku Kanum

Sebuah nama di antara dua wilayah

Ada sebuah nama tempat di antara wilayah Malind dan wilayah Kanum. Orang menyebutnya Ndalir.

Dalam bahasa Malind nama itu terdengar biasa saja. Dalam bahasa Kanum nama itu berarti darah, darah yang mengalir mengikuti kali.

Bukan kebetulan

Menurut Marthen Ndiken, nama itu bukan kebetulan. Ndalir adalah benteng perang antara orang Malind dan orang Kanum. Di situlah dua suku itu biasa berperang, dan di situ pula batas kekuasaan berhenti. Orang Malind tidak boleh menyeberangi Ndalir.

Wilayah Kanum yang terlalu luas, kata penutur, adalah salah satu sebab mengapa Malind berperang dengan Kanum.

Ia juga menunjukkan arah wilayah itu. Dari Ndalir, katanya, wilayah itu turun ke bagian Urumb dan naik terus sampai Onggari. Dari titik itu ke arah Sota sudah wilayah Malind.

Permusuhan yang tidak menyeluruh

Yang perlu dicatat adalah bahwa permusuhan itu tidak menyeluruh.

Dengan orang Yei, kata penutur, orang Kanum adalah keluarga. Dengan orang Kima'am juga keluarga. "Yang musuh itu antara kita dengan Marind," katanya.

Empat saudara yang keluar dari satu batang nibun tidak berarti empat saudara yang selalu berdamai. Cerita asal usul dan cerita perang, dalam tuturan ini, adalah satu cerita yang sama yang diteruskan sampai ujungnya.

Bagaimana perang itu berhenti

Perang itu berlangsung lama. Penutur menyebut bahwa pada tahun tiga puluhan (1930an), orang masih berperang, dan bahwa perang terakhir terjadi sekitar tahun lima puluh enam atau lima puluh tujuh (1956 - 1957).

Yang mengakhirinya, menurut tuturannya, adalah kehadiran pemerintahan dan masuknya Injil ke tanah Papua secara bersamaan. Pemerintahan dan penginjilan berjalan seiring, dan keduanya bekerja untuk mendamaikan perang suku itu.

Yang tersisa sesudahnya

Sesudah perang berhenti, pengakuan kekerabatan tetap berjalan.

Sampai sekarang, kata Marthen Ndiken, keempat suku masih menghargai bahwa mereka adalah bagian dari orang Matahari Naik, yaitu orang Kanum.

Catatan penutur. Cerita ini dituturkan oleh Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum di Kampung Sota, Kabupaten Merauke.