05 · 6 menit
Ketika Orang Mengira Tuhan Sudah Datang
Penutur
Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom, Kampung Buti
- mengayau
- sejarah
- empat golongan
- Kampung Buti
- agama
Dari zaman yang mana
Yulius Romeo Mahuze memulai ceritanya dengan sebuah keberatan. Ketika ditanya tentang cerita adat yang berkembang, ia balik bertanya, dari zaman yang mana. Zaman orang tua, zaman moyang, atau zaman yang berjalan sekarang. Jarak antara ketiganya, katanya, sangat lama sekali.
Yang ia tahu dengan pasti adalah cerita sejarah perang suku.
Dari Kondo sampai Digul
Peradaban orang Malind, menurut tuturannya, bergerak dari Tanah Kondo sampai Tanah Digul, sampai ke Kali Digul dan Muara Digul. Dari sana mereka mengayau. Mengayau itu sampai ke wilayah Mandobo, ke wilayah Muyu, dan sampai ke wilayah Papua Nugini, ke wilayah yang berbatasan dengan Minuptaran.
"Sejarah kami ini sejarah yang sangat kental dengan sejarah mengayau," katanya.
Perpindahan itu bermula dari ujung ekor burung, dan dari sana mereka datang sampai ke Kondo. Setelah dari Kondo mereka menyebar ke wilayah-wilayah adat, dan di dalam penyebaran itu terbentuk empat golongan adat.
Di Muting ada wilayah Esam. Di Kota Merauke, terbentang dari Kampung Baad sampai Pantai Buti, ada wilayah Sosom. Dari Baad sampai Senegi, ke Kaliki dan Salor ke bagian atas, ada golongan Mayo, yang kemudian terbagi menjadi Mayo Daman dan Mayo Bodol. Di tengah-tengah, sampai ke Kali Digul, ada wilayah Imo.
Peta yang ditinggalkan perjalanan
Empat golongan itu bukan sekadar pembagian wilayah. Empat golongan itu adalah kerangka yang mengatur siapa boleh melewati apa. Di dalam setiap golongan terdapat tujuh marga. Namun orang dari satu kampung tidak boleh melewati wilayah marga kampung lain.
"Begitu pula juga kami," kata penutur. "Tidak bisa lewat ke wilayah Kampung Wasur."
Sebab yang ia berikan berkaitan langsung dengan cerita mengayau tadi. Batas-batas itu dibuat pada masa perjalanan berburu dan mencari kepala. Ketika rombongan datang, beristirahat, dan mencari makan di suatu tempat, tempat itu kemudian dijadikan batas. Pohon, rawa, dusun sagu, dan tempat berburu menjadi penanda.
Perjalanan yang paling keras justru yang meninggalkan peta yang paling awet.
Bukan nelayan
Ketika ditanya apakah orang di wilayah Sosom memang dekat dengan laut karena mereka nelayan, ia menjawab dengan jujur bahwa tidak ada sejarah yang menyatakan demikian. Mereka sampai ke pesisir bukan karena laut, melainkan karena perjalanan mengayau itu. Rombongan turun, tidak mendapat apa yang dicari, lalu menetap di situ.
"Tidak ada histori sejarah bahwa kami ini nelayan," katanya.
Yang justru ia tekankan adalah penghormatan terhadap pangan. Ia menyebut wati, pisang, dan sagu sebagai tumbuhan yang sangat dihormati, dan menjelaskan bahwa pangan itu pun memiliki marganya sendiri.
Hari ketika orang Barat datang
Zaman mengayau itu berakhir ketika agama masuk. Sebelum agama masuk, kata penutur, orang Malind sangat keras dengan budaya mengayau. Ia menyebut tahun 1902 sebagai penanda, tahun yang kini dikenal sebagai awal Kota Merauke.
Ketika orang Barat datang, orang Malind menyangka bahwa yang datang adalah Tuhan. Sebabnya adalah kulit yang berbeda, kulit yang putih, dan orang yang tinggi. Mereka menganggap, inilah dema kami. Dema itu, dalam pengertian mereka, adalah tuan tanah atau dewa.
Setelah itu diberikan pengajaran agama Katolik, dan ajaran-ajaran adat mulai dilepaskan satu per satu. Hal-hal yang ada di dalam ritual dan pesta adat dinyatakan melanggar sepuluh perintah Allah. Barang-barang sakral dikubur semua.
Yang tidak ikut terkubur
Ada satu hal yang tidak ikut terkubur, dan penutur menekankan hal ini dengan hati-hati.
Kebiasaan menyanyi bagi orang yang meninggal bukan berasal dari agama. Ketika ada yang meninggal, ada nyanyian dari malam sampai pagi, nyanyian adat, di samping jenazah yang dibaringkan.
"Itu sudah tradisi orang Marind," katanya.
Yang ia sesali
Yang ia sesali adalah yang datang sesudahnya. Setelah generasi mereka mengenal agama dan pendidikan, kata Yulius Romeo Mahuze, pengetahuan adat pada generasinya sendiri dan generasi di bawahnya sudah agak berkurang. Tarian pun sudah hampir punah.
Dan karena itu, katanya, sampai sekarang ia masih berusaha mengembangkannya kembali.
Catatan penutur. Cerita ini dituturkan oleh Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom di Kampung Buti, Kabupaten Merauke.