02 · 5 menit
Manusia yang Lahir dari Perut Bumi
Penutur
Frederikus Mahuze, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Malind Anim, Kabupaten Merauke
- asal usul
- Malind Anim
- dema
- totem
- lembaga adat
Sebuah kata, bukan sebuah tempat
Ada cerita asal usul yang lain lagi di Tanah Merauke, dan cerita ini dituturkan dari kedudukan yang berbeda. Frederikus Mahuze berbicara sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Malind Anim, dan ia memulai bukan dari sebuah tempat, melainkan dari sebuah kata.
Kata itu adalah Anim Ha.
Mengapa disebut Malind Anim Ha, katanya. Karena Ha di ujung kata itu menunjukkan manusia sejati.
Urutan penciptaan
Dasarnya adalah urutan penciptaan sebagaimana ia menuturkannya. Setelah bumi diciptakan beserta isinya, beserta pohon, tumbuhan, dan air, diciptakan lebih dahulu manusia yang dapat menjelma. Manusia yang dapat menjelma itulah yang disebut dema. Dema bisa menjadi apa saja. Dema bisa hilang dan berganti wujud. Itulah manusia yang pertama.
Baru sesudah itu, manusia sejati mulai lahir dari perut bumi. Diciptakan dari tanah, dimasukkan roh ke dalam tubuhnya, lalu dilahirkan dari dalam tanah.
"Itulah Malind," katanya. Sebutan Anim Ha, atau manusia sejati, menurutnya tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Anjing dan burung bangau
Yang menemukan manusia pertama di dalam perut bumi, adalah anjing. Anjing adalah totem marga Mahuze, dan ia menemukan melalui penciuman. Kepada anjing itu, katanya, memang sudah diberikan talenta khusus, dan karena itulah anjing dipakai di seluruh dunia untuk melacak sesuatu. Ia menyebut anjing sebagai penemu dan penyelamat.
Namun anjing itu belum mengetahui yang sebenarnya. Maka ia meminta bantuan kepada marga Ndiken, yang totemnya adalah burung bangau berwarna biru putih dengan kaki kuning. Anjing dan burung bangau itulah yang bersama-sama menemukan manusia pertama di dalam perut bumi.
Tanah sebagai seorang ibu
Dari cerita penciptaan itu lahir satu penjelasan tentang tanah yang oleh penutur dianggap paling penting.
Karena manusia Malind lahir dari dalam tanah, maka tanah diperlakukan sebagai seorang ibu. "Karena tanah ini kami anggap itu seorang ibu untuk kami," katanya, "karena kita lahir dari situ."
Dari situlah, menurutnya, datang kerumitan setiap kali ada urusan pemindahan hak atas tanah. Kerumitan itu bukan kerumitan administratif. Kerumitan itu adalah cara menjaga harga diri seorang ibu.
Dema, leluhur, dan yang disembah
Penutur juga menerangkan hubungan antara dema, leluhur, dan yang disembah. Dema, katanya, tidak sama dengan Allah Bapa. Dema diciptakan. Dema itulah yang kini disebut para leluhur. Dan ketika orang menyampaikan ucapan syukur, yang meneruskan permohonan itu adalah mereka.
Dalam sebutan adat, katanya, Allah Bapa disebut Alawi, dan Yesus disebut Waliwu.
Mereka yang bisa berubah wujud
Mengenai totem, ia menyebut Marga-marga berikut, yaitu Mahuze, Gebze, Ndiken, Samkakai, Balagaize, Kaize, dan Basik-basik. Ketika menerangkan kemampuan menjelma, ia menyebut pula Kaize yang dapat berubah menjadi kasuari, Samkakai yang dapat berubah menjadi kanguru, dan Mahuze yang dapat berubah menjadi anjing atau menjadi pohon sagu.
Pada masa itu, katanya, mereka memang dapat berbuat demikian. Dan itulah yang disebut totem.
Catatan penutur. Cerita ini dituturkan oleh Frederikus Mahuze, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Malind Anim, Kabupaten Merauke.