08 · 5 menit
Pulang Jam Berapa
Penutur
Dominggus Bakap, Kepala Kampung Wasur, dan Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom
- dema
- pemali
- Kampung Wasur
- izin masuk dusun
Satu kata, banyak sisi
Ada satu kata yang muncul di hampir semua wawancara, dan setiap penutur menjelaskannya dari sisi yang berbeda. Kata itu adalah dema.
Yulius Romeo Mahuze menjelaskannya dari sisi wujud. Dema, katanya, adalah tuan tanah. Ia adalah manusia yang belum menjadi manusia, serupa roh halus atau serupa dewa, dan berwujud binatang seperti ular.
Ada ular laut dan ular air yang dinamakan Sarendo, dan ular ini suka membuat kali ke mana pun ia pergi. Secara sejarah, Sarendo adalah milik marga Gebze. Ada pula Misdema, yaitu penjaga yang membawa busur, manusia yang suka berjalan dengan anak panah, dan yang menjaga tanah tinggi. Misdema adalah milik marga Mahuze.
Dominggus Bakap menjelaskannya dari sisi hubungan. Baginya dema bukan pertama-tama sosok, melainkan tempat asal.
"Dema itu kan kembali ke tempat di mana kita itu berada dan tempat di mana kita berasal," katanya. "Dema itu akan kembali ke identitas kita."
Setiap tempat, setiap wilayah adat, memiliki leluhur atau dema sendiri. Dan karena setiap tempat berlatar belakang berbeda, maka moyang di setiap tempat pun berbeda-beda.
Pertanyaan yang bukan basa-basi
Dari penjelasan itu lahir sebuah kebiasaan yang sangat praktis, dan justru di situlah pengetahuan ini paling mudah dikenali oleh orang luar.
Ketika seseorang datang meminta izin masuk ke sebuah dusun, Kepala Kampung atau Kepala Adat akan bertanya satu hal. Pulangnya jam berapa.
Pertanyaan itu bukan basa-basi. Pertanyaan itu adalah penekanan. Silakan berjalan, tetapi ingat pulang pada jam sekian, karena tempat itu agak panas dan agak ekstrem.
Sakit yang bukan sakit medis
Sebabnya dijelaskan dengan jujur. Jika orang itu terlambat, jika ia seharusnya pulang pukul tiga tetapi baru pulang pukul empat, lalu sampai di rumah tiba-tiba sakit, maka jangan salahkan mereka yang sudah bertanya.
Sakit itu bukan sakit medis. Penanganan medis pun akan mengatakan tidak ada penyakit. Yang terjadi adalah, dalam ungkapan penutur, dema mengajar orang itu.
Yang harus dilakukan kemudian adalah kembali kepada ketua adat atau kepada pemilik tempat itu, supaya dikembalikan.
"Kebiasaan itu masih berlaku sampai hari ini," katanya. "Dan itu dia tidak akan pernah hilang."
Dua hal yang perlu dipahami dengan tepat
Pertama, tidak semua dema baik. Kalau seseorang berbuat salah di dalam wilayah itu dan dema marah, orang tidak akan melihat apa-apa. Dema adalah roh, dan tidak ada yang tahu ia muncul dari mana. Ia juga tidak memberi peringatan lebih dahulu.
Kedua, dema bukan hanya soal bahaya. Dema, kata Dominus Bakap, sekaligus adalah penjaga alam semesta dan penjaga tempat yang dimiliki. Karena itu tidak sembarang orang bisa masuk, dan tidak sembarang orang bisa merusak.
Dalam bahasa kampung dan bahasa adat, hal itu disebut pemali.
Dan pemali itulah yang mengikat semuanya. Larangan itu bukan larangan yang berdiri sendiri. Larangan itu adalah bentuk paling ringkas dari sebuah hubungan antara manusia, tempat, dan yang menjaga tempat itu.
Batas yang ditandai sendiri oleh penutur
Ketika ditanya apakah pengetahuan tentang dema dan pemali ini berlaku untuk suku Malind secara luas atau hanya untuk wilayah Marori Menggey saja, Dominggus Bakap menjawab dengan hati-hati.
Untuk gambaran umum, katanya, kebiasaan itu memang melekat pada orang Malind, dan melekat langsung dengan totem yang ada. Namun ia menambahkan satu kalimat yang perlu dikutip utuh.
"Saya tidak tahu dengan suku yang lain."
Ia juga menandai batas satunya lagi. Ada bagian yang memang tidak bisa diceritakan karena bersifat privasi dan sakral, dan ada bagian lain yang memang bisa disampaikan kepada umum.
"Bapak harus berkata jujur bahwa ada ruang-ruang yang memang bagi kita tuh privasi," katanya. "Kita tidak bisa langsung masuk ke situ."
Catatan penutur. Halaman ini memuat tuturan Dominggus Bakap, Kepala Kampung Wasur, dan Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom di Kampung Buti.