11 · 6 menit

Setahun Tanpa Sentuhan

Penutur

Mama Norce Mahuze, penutur tradisi Suku Kanum, Marthen Ndiken, dan Alexander Kaize

  • pegang anak
  • Suku Kanum
  • bunga anggin
  • kumbili
  • Kampung Wasur

Satu tahun yang dijalani dalam jarak

Ada satu tahun dalam hidup seorang anak Kanum yang dijalani dalam jarak. Selama satu tahun penuh sejak ia lahir, om dan tantenya tidak boleh menyentuhnya. Sebagian bahkan tidak boleh melihatnya.

Marthen Ndiken menjelaskan bahwa masa itu adalah masa berkabung dan puasa bagi kerabat tersebut. Kalau di tempat lain orang berkabung dengan memotong rambut, di sini tidak. Di sini orang berkabung dengan tidak menyentuh.

Larangan itu dijaga dengan sungguh-sungguh oleh ibu si anak. Ketika ibu tahu bahwa om anak itu ada di suatu tempat, ia tidak akan lewat di sana. Ia akan memutar dan mengambil jalan lain.

Setelah anak berumur satu tahun, barulah dibuat acara adat. Acara itulah yang disebut pegang anak.

Waktunya mengikuti panen

Mama Norce Mahuze menceritakan bagaimana acara itu disiapkan dan dijalankan.

Acara syukuran pegang anak biasanya dilakukan pada musim panen, khususnya panen kumbili, dan kebanyakan dibuat pada bulan Oktober, karena pada saat itu kumbili sudah dipanen semua.

Persiapannya dimulai dari makanan dan tempat. Kumbili disiapkan, sagu disiapkan, dan tempat disiapkan. Karena biasanya ada beberapa anak yang akan dipegang sekaligus, maka acara mereka digabung menjadi satu pesta.

Pakaian adat yang lengkap

Anak-anak itu, yang semuanya berumur satu tahun, dilengkapi pakaian adat dari hiasan kepala sampai cawat. Ada noken kecil, dan ada manik-manik yang digantung menyilang. Marthen Ndiken menambahkan bahwa untuk anak perempuan rambut dianyam ke belakang dengan tali, dan kantong sirihnya pun dihias.

Para-para dan bunga anggin

Setelah tanggal diputuskan, semua orang berkumpul. Di tempat itu disiapkan batu sep, kulit bus, dan kayu bakar untuk membakar sep.

Kemudian dibuatlah para-para. Para-para itu dihias dengan daun kelapa dan bunga anggin, sebab bunga anggin memang yang biasa dipakai untuk acara adat. Namun tidak semua jenis bunga anggin dipakai. Hanya beberapa jenis tertentu yang digantung di situ.

Di antara hiasan itu digantung buah kumbili yang sudah dibungkus dengan kulit bus. Ada pula keladi, yang dicabut utuh satu dengan daunnya dan digantung di sana. Marthen Ndiken menyebutkan hiasan lain yang serupa, yaitu janur kuning yang dibuat bulat, buah-buahan, dan hasil kebun seperti nanas dan pisang.

Lalu anak-anak itu bersama orang tuanya, semuanya berpakaian adat, duduk di atas para-para.

Pukul tiga, sep dibuka

Sep dibakar. Pada pukul tiga sep dibuka. Tifa ditabuh. Dan barulah anak itu dipegang.

Siapa yang memegang ditentukan oleh hubungan kekerabatan. Jika seorang saudara perempuan mempunyai anak yang akan dipegang, maka saudara laki-lakinya semua berkumpul, yaitu mereka yang berpangkat om. Demikian pula sebaliknya.

Anak-anak itu menangis

Yang terjadi pada saat itu digambarkan dengan jujur oleh Marthen Ndiken, dan gambarannya justru menjelaskan mengapa ritual ini diperlukan.

Anak-anak itu ketakutan. Mereka menangis. Sebabnya sederhana. Mereka baru pertama kali melihat orang-orang ini. Wajah yang biasa mereka lihat tidak membuat mereka menangis, tetapi om dan tante mereka adalah orang baru. Begitu hendak diangkat, anak itu menangis. Begitu badannya disentuh, ia menangis.

Om dan tante keluar satu per satu, dengan tikar yang baru dianyam menutupi muka. Anak itu diangkat, langsung dipegang, dipeluk, lalu diserahkan kepada yang berikutnya. Demikian seterusnya sampai habis.

Makna yang dirumuskan dengan tenang

Makna keseluruhannya dirumuskan oleh Mama Norce dalam satu kalimat yang tenang. Pada waktu anak itu baru lahir, kita sebagai tante atau paman tidak memegang anak itu. Maka acara ini adalah syukuran bahwa anak itu sudah menjadi bagian dari keluarga saya, jadi saya harus memegang.

Ada satu unsur yang menyimpan makna tersendiri, yaitu bunga anggin. Mama Norce menjelaskan bahwa bunga itu melambangkan marga. Di marga Mahuze ada anggin yang melambangkan marga itu, dan bunga itulah yang menjadi bunga utama yang dipakai. Kemudian dua marga pendamping ikut pula di situ.

"Berarti ini kan kita tidak terlepas satu ikatan suku," katanya.

Suku Kanum, jelasnya, terdiri atas tiga marga besar, yaitu marga Mbanggu, marga Ndiken, dan marga Nde. Mbanggu itulah yang Mahuze.

Aturan tentang lagu

Ketika ditanya apakah beliau dapat menyanyikan lagu adat pada saat itu juga, jawaban beliau adalah bagian penting dari pengetahuan ini. Beliau menjawab bahwa lagu adat hanya dapat dinyanyikan pada saat ada acara adat. Untuk dinyanyikan begitu saja, tidak bisa.

"Itu ada aturannya."

Pegang anak di Wasur

Praktik yang sama juga berlangsung di Kampung Wasur. Alexander Kaize menerangkan bahwa di dalam rangkaian pesta adat Wasur terdapat tusuk telinga dan pegang anak. Anak pertama tidak boleh dipegang badannya oleh om, dan om harus berpuasa lebih dahulu sampai tiba waktunya.

Ketika ditanya secara langsung apakah prosesnya sama dengan yang diceritakan Mama Norce Mahuze, ia menjawab bahwa prosesnya sama.

Catatan penutur. Halaman ini memuat tuturan Mama Norce Mahuze, penutur tradisi Suku Kanum, Marthen Ndiken, penasihat adat Suku Kanum, dan Alexander Kaize, Ketua Adat Kampung Wasur.