13 · 4 menit

Tarian yang Tidak Boleh Dipinjam

Penutur

Agustinus Ndiken, Kepala Kampung Baad

  • Gatzi
  • Ettor
  • tarian
  • Kampung Baad
  • pewarisan

Dua tarian di Kampung Baad

Jika nyanyian penyebut nama tempat dikenal di seluruh empat golongan, maka tarian bekerja dengan cara yang sebaliknya. Tarian justru tidak boleh berpindah tangan.

Agustinus Ndiken menyebutkan dua tarian di Kampung Baad.

Gatzi

Yang pertama adalah Gatzi. Tarian ini, katanya, bersifat umum. Ia dipakai pada pembukaan sasi, pada pelepasan tanah adat, dan pada penerimaan tamu penting dari kabupaten maupun provinsi.

Cara pemakaiannya ia jelaskan berurutan. Ketika ada orang meninggal, dibuatlah sasi. Setelah sasi itu dibuka kembali, barulah Gatzi dimainkan.

Demikian pula pada pelepasan tanah dari satu marga kepada pihak lain. Ada acara bunuh babi, dan pada malam harinya Gatzi dimainkan lebih dahulu. Biasanya berlangsung dua malam.

Dan Gatzi dipakai pula sebagai ucapan terima kasih.

Tarian Gatzi

Video Tarian Gatzi di YouTube — Petrus Kaize

Sumber: Youtube Petrus Kaize

Ettor

Yang kedua adalah Ettor. Tarian ini dipakai untuk penerimaan, termasuk penerimaan tamu.

Namun berbeda dengan Gatzi, Ettor tidak dapat dipakai sembarangan di kampung lain. Ia khusus milik orang Baad. Di Kota Merauke masih dapat dipakai, katanya, karena kota itu termasuk wilayah mereka.

Di sinilah aturan yang ia sebut di awal wawancara memperoleh bentuknya yang paling jelas. Sebuah tarian bukan sekadar pertunjukan. Sebuah tarian adalah milik, dan milik itu terikat pada tempat.

Yang dikhawatirkan bukan tariannya

Yang ia khawatirkan bukan tariannya, melainkan nyanyiannya.

Di Kampung Baad, katanya, banyak orang yang belum bisa menyanyikan lagu Gatzi. Yang bisa hanya orang tua. Anak-anak sudah terpengaruh oleh keadaan yang sekarang.

Maka ketika ada tarian Gatzi, yang menyanyi haruslah orang tua, sedangkan yang lain menonton. Sebenarnya, katanya, ketika tarian itu sedang dimainkan anak-anak semua ikut turun, dan mereka bisa saja bergerak mengikuti, hanya saja yang mereka lakukan lebih banyak bergoyang daripada menyanyi.

Bahasa yang tidak dimengerti penyanyinya

Ada satu keterangan yang ia sampaikan dengan jujur dan yang justru menjelaskan mengapa nyanyian itu sulit diwariskan.

Bahasa lagu Gatzi tidak dimengerti oleh mereka yang menyanyikannya.

"Kita tidak mengerti bahasanya," katanya. "Hanya ada ini, kita bisa menyanyi."

Ia menduga bahwa bahasa itu bukan bahasa Malind sehari-hari, melainkan barangkali bahasa Malind yang halus. Namun lagunya, katanya, memang ada.

Yang tersebar dan yang tidak

Tarian Gatzi sendiri sudah tersebar. Ia menyebut bahwa Gatzi pernah dipakai pada penerimaan gubernur, dan bahwa rekamannya sudah banyak beredar di YouTube.

Yang tersebar adalah tariannya. Yang tidak tersebar adalah kemampuan menyanyikannya.

Sebuah usul kerja

Pesannya untuk generasi muda berbentuk usul kerja, bukan nasihat. Menurutnya tarian itu harus dilestarikan melalui kegiatan khusus yang diatur oleh ketua adat, yaitu kegiatan latihan menyanyikan lagu Gatzi.

Catatan penutur. Cerita ini dituturkan oleh Agustinus Ndiken, Kepala Kampung Baad, Kabupaten Merauke.

Catatan keterbatasan data. Nama tarian Ettor muncul dalam dua bentuk dalam rekaman yang sama, yaitu Ettor dan Etor, dan bentuk bakunya belum ditetapkan. Nama tempat penerimaan tamu yang disebut penutur terdengar sebagai Kowa dan perlu dikonfirmasi ejaannya. Lirik lagu Gatzi tidak dimuat, bukan karena larangan adat, melainkan karena lirik itu tidak dituturkan dalam wawancara dan karena penutur sendiri menyatakan bahwa bahasanya tidak dimengerti. Keterangan bahwa tarian Gatzi beredar di YouTube berasal dari penutur, dan penyusun tidak memeriksa, tidak menautkan, dan tidak memuat rekaman mana pun karena status haknya belum diketahui.