07 · 6 menit
Tujuh Marga dan Cerita yang Tidak Boleh Diceritakan
Penutur
Yulius Romeo Mahuze, Alexander Kaize, dan Dominggus Bakap
- marga
- totem
- kepemimpinan adat
- kunamanem
- batas pengetahuan
Angka yang berulang
Di Tanah Malind angka tujuh berulang. Di Kampung Buti ada tujuh marga. Di Kampung Kubir ada tujuh marga. Di Kampung Wasur ada tujuh marga. Dan di Wasur, meskipun penduduknya adalah sub-suku Marori Menggey yang berbahasa sendiri, tujuh marga besar itu diakui juga.
Ketujuh marga itu adalah Mahuze, Kaize, Gebze, Ndiken, Samkakai, Balagaize, dan Basik-basik.
Makhluk yang mengenali mereka
Yang membuat sistem ini bukan sekadar daftar nama adalah bahwa setiap marga dikenali oleh makhluk hidup tertentu. Yulius Romeo Mahuze menyebutkan lambang itu satu per satu, bukan hanya dari kelompok binatang, melainkan juga dari kelompok tumbuhan dan dari laut.
Marga Mahuze dikenali oleh anjing. Tumbuhannya sagu. Di laut, ikan sembilan, yang pendek dan yang durinya menikam sakit.
Marga Gebze dikenali oleh kelelawar. Tumbuhannya kelapa, dan di pinggir ada pohon waru.
Marga Ndiken dikenali oleh burung dik, seekor burung langka yang hitam putih dan tinggi. Tumbuhannya wati.
Marga Basik-basik dikenali oleh babi.
Marga Balagaize dikenali oleh burung elang, dan di bawah, oleh buaya.
Marga Samkakai dikenali oleh kangguru, yang dalam bahasa sehari-hari di Merauke disebut saham.
Marga Kaize dikenali oleh kasuari.
Binatang yang dilindungi
Alexander Kaize memberikan keterangan yang bersesuaian dari Wasur, dan ia menjelaskan akibat praktisnya.
Kangguru bertotem marga Samkakai, dan itulah marga Kepala Kampung. Karena itu, katanya, di Wasur berburu kangguru dilarang keras. Kalau memang harus mencari makan sehari-hari dengan busur, maka panah dengan busur dan bawa pulang secukupnya untuk makan saja.
Kasuari adalah binatang bermarga, yaitu marga Kaize, yang adalah marganya sendiri. Burung rajawali yang besar adalah marga Balagaize. Anjing adalah marga Mahuze.
Bagi Alexander Kaize, kesimpulannya tunggal. "Binatang-binatang itu dilindungi."
Raja, kaisar, dan kepala perang
Sistem tujuh marga itu memiliki tatanan kepemimpinan tersendiri. Dalam dua golongan, yaitu Esam dan Sosom, ada tiga marga besar, yaitu Mahuze, Kaize, dan Gebze. Gebze dikategorikan sebagai raja. Kaize dikategorikan sebagai kaisar. Mahuze dikatakan sebagai kepala perang.
Di dalam dua golongan itu ada hak mandat yang dalam bahasa Malind disebut kunamanem. Hak itu ada pada marga Kaize, dan Yulius Romeo Mahuze menyebutnya hak kesulungan yang dari dalam perut.
Yang menarik adalah pembedaan yang ia buat mengenai dirinya sendiri. Jabatannya sebagai ketua adat wilayah bisa diganti. "Kalau saya buat salah, bisa marga Gebze ganti saya. Bisa marga Kaize ganti saya," katanya. Sedangkan kepala golongan tidak bisa digantikan siapa pun, karena itu hak kesulungan dari lahir.
Ruang yang sedang dibuka
Ada satu keterangan dari Yulius Romeo Mahuze yang tidak berbentuk cerita, melainkan berbentuk laporan tentang perubahan yang sedang berjalan.
Menurut penjelasannya, secara aturan adat perempuan tidak memiliki hak berbicara, dan tidak memiliki hak untuk bekerja di wilayah. Ia menyebut bahwa larangan itu berasal dari pihak laki-laki.
Dan ia menyatakan bahwa hal itulah yang kini sedang ia dan rekan-rekannya usahakan untuk dikembangkan secara berbeda, melalui organisasi perempuan. Ia menyebut nama Marind Iwak untuk lingkup Merauke, dan Buti Iwak untuk lingkup Kampung Buti. Kepada perempuan, katanya, mereka sedang memberikan ruang.
Siapa yang berhak menceritakan apa
Aturan tentang siapa yang berhak menceritakan apa juga tegas. Dominggus Bakap menjelaskan bahwa cerita mengenai asal-usul sebuah marga hanya dapat dijelaskan oleh marga itu sendiri, karena itu melekat pada identitas dan latar belakangnya. Adapun cerita mengenai sub-suku secara kolektif, itu adalah kapasitas lembaga adat atau ketua adat.
Dan di sinilah cerita ini berhenti
Ketika Alexander Kaize ditanya mengapa marga Kaize mengambil kasuari sebagai totem, dan apakah ada cerita turun-temurun tentang itu, ia menjawab pendek. Yang bisa ia ceritakan akan ia ceritakan, dan yang tidak bisa, tidak bisa.
"Karena itu tidak bisa sampai orang untuk kita," katanya.
Pertanyaan itu tidak diulang. Jawaban itu tidak dilengkapi. Ia adalah bagian dari cerita ini sama seperti nama-nama yang boleh disebut.
Catatan penutur. Halaman ini memuat tuturan Yulius Romeo Mahuze, ketua adat wilayah Sosom, Alexander Kaize, Ketua Adat Kampung Wasur, dan Dominus Bakap, Kepala Kampung Wasur.